4/18/09

Korban =< Pelaku

Melihat judul di atas yang menggunakan dua kata yaitu korban dan pelaku, mungkin membuat kita menjadi mudah untuk mengaitkan masing-masing kata tersebut di dalam kehidupan sehari-hari karena kita sudah terbiasa mendengar kata tersebut. Dimana biasanya kata korban akan menjadi banyak untuk dikaitkan dengan hal-hal seperti korban tabrak lari, korban pelecehan seksual, korban kekerasan, korban penganiayaan, korban penipuan, korban perasaan, etc. Begitu banyak kata korban yang bisa diberikan tambahan kata dan pada akhirnya menghasilkan kata yang negatif. Melihat padanan kata korban tersebut sebenarnya perlu diberikan juga apa sebenarnya definisi dari kata 'korban'. Korban adalah orang yang menjadi menderita, tersiksa, sengsara, sedih, kecewa, etc akibat suatu kejadian, penipuan, penganiayaan perbuatan iseng, kejahatan, etc yang menimpanya.

Terkadang kita suka merasa kesal, kecewa, sedih, sakit, dan lain-lainnya ketika menjadi 'sang korban' apapun itu karena merasa diri ini tidak pantas atau tidak layak untuk dijadikan korban oleh orang-orang ataupun situasi di sekeliling kita. Tapi kalau mau dipikir ulang dan mengintropeksi diri, Apakah kita tidak pernah menjadi pelaku bagi sesama kita di dalam hidup ini?? Seakan-akan kita tidak pernah menjadi pelaku yaitu menipu, membohongi, memarahi, mengerjai,etc orang-orang bahkan situasi yang berada di sekeliling kita. Sebenarnya tanpa disadari justru mungkin kita pernah jadi pelaku yang jauh lebih kejam dan menyiksa dibandingkan saat menjadi sang korban.

Terlepas dari itu semua, ada hal yang lebih penting yang justru harus lebih kita pikir ulang apalagi buat orang yang mengaku percaya kepada Tuhan, karena saat kita tidak menyadari atau tidak mau mengakui bahwa kita tidak pernah jadi pelaku dalam hidup ini sebenaranya kita benar-benar sungguh kejam karena melupakan hal yang sangat penting yaitu kita justru sebenarnya sudah menjadi pelaku yang paling jahat karena keberdosaan dan segala perbuatan tidak berkenan kepadaNya yang sering kita lakukan telah membuat Tuhan kita yaitu Tuhan Yesus Kristus mau turun ke dunia berdosa ini dan menderita, tersiksa, bahkan mati di kayu salib untuk menebus dosa-dosa dan segala perbuatan jahat yang sudah manusia lakukan. Kita justru telah menjadikan Dia sebagai korban yang paling menderita dan sengsara tanpa bisa digantikan siapa pun juga di dunia ini, padahal Tuhan Yesus Kristus justru satu-satunya Pribadi unik yang sama sekali tidak bercela dan berdosa, serta tidak pernah jadi pelaku bagi manusia dan apapun di dunia namun justru rela mati untuk kita semua yang sebenarnya sama sekali tidak layak menerima itu semua.

Oleh karena itu, saat kita menjadi sang korban justru seharusnya kita tidak layak atau tidak boleh atau tidak pantas memiliki perasaan kesal, marah, dengki, kecewa bahkan dendam yang ingin membales itu semua karena ketika kita cuma fokus pada diri kita sendiri atau semua perasaan yang menimpa diri kita sendiri justru itu semua akan membawa kita jatuh ke dalam dosa. Namun kita justru harus bisa berfokus dan melihat kembali kepada pengorbanan Tuhan Yesus Kristus yang dimana begitu pengasih dan penyayang karena mau mengorbankan segalanya bahkan sampai nyawaNya sendiri untuk membebaskan kita dari hukuman maut.
Bagaimana kita bisa merespon segala pengorbananNya di dalam kehidupan kita ini??!!
Marilah kita sebagai orang percaya, bisa mengintropeksi diri sendiri akan ini semua ini, serta
Maukah kita senantiasa terus belajar dari karakterNya yang paling indah dalam menjalani segala aspek kehidupan kita di dunia ini??!!

3/31/09

Kado yang Special

Ada seorang anak kecil yang pernah melihat suatu kado yang begitu spesial, walaupun dia sebenarnya juga selalu diberikan kado-kado yang indah dan spesial oleh si Pemilik semua yang ada di dunia ini namun kado yang spesial ini jenisnya berbeda dan begitu indah baginya sampai-sampai anak kecil tersebut tidak berani untuk meminta kepada Pemiliknya. Sehingga yang dilakukan si anak kecil setiap harinya hanya berceloteh ria kepada Pemiliknya, menceritakan ketika bisa mengenal, melihat, bertemu, tersenyum, rindu, serta segala pertanyaan dan perasaannya yang seharusnya ditujukan kepada kado tersebut justru hanya bisa diceritakan kepada Sang Pemilik.

Namun tanpa diminta, tanpa diduga, tanpa dikira...segalanya datang secara mendadak...
Pemilik semua yang ada justru memberikan kado yang spesial itu kepada si anak kecil tersebut. Hati si anak kecil begitu bersukacita dan bersemangat. Walau anak kecil tersebut sudah sering mendapatkan begitu banyak kado yang spesial serta indah, namun untuk pertama kalinya anak kecil tersebut bisa mendapatkan jenis kado yang seperti ini dan baginya ini yang paling indah diantara kado yang sejenis dengannya.

Sekarang ketika kado tersebut sudah berada di depan mata, anak kecil tersebut malah kebingungan karena dia tidak tahu cara mengungkapkan perasaan sukacitanya memberikan sayangnya, menunjukkan bagaimana indahnya kado tersebut bagi dirinya, dan masih banyak lagi yang ingin dilakukan untuk kado tersebut namun belum bisa dilakukannya karena anak kecil itu takut justru akan membuat kado tersebut justru merasa tidak nyaman. Sehingga sekarang pun yang dilakukan si anak kecil adalah kembali berceloteh ria kepada Pemiliknya seperti dahulu kala karena hanya kepada Pemilik tersebut dia bisa mengungkapkan segalanya tanpa rasa takut dan khawatir.

Yang terpenting justru anak kecil tersebut senantiasa bersyukur dan berterima kasih karena bisa diberi kesempatan untuk boleh menikmati seutuhnya. Walaupun anak kecil itu juga menyadari bahwa waktu yang diberikan kepadanya untuk bersama kado itu tidak tahu akan berapa lama--karena kado yang spesial tersebut cuma titipan yang diberikan sehingga kapan pun juga Sang Pemilik akan berhak mengambilnya kembali. Namun anak kecil itu juga meyakini bahwa selama masih tersedianya waktu baginya, dia akan berusaha untuk bisa melakukan semuanya itu kepada si kado tersebut, karena dia benar-benar mau menghargai dan menjaga kado spesial yang sudah diberikan kepadanya.