5/25/09

Tak Kenal maka Tak Sayang


Kita sudah sering mendengar istilah atau pepatah seperti tak kenal maka tak sayang, yang dimana lebih terbiasa untuk dikaitkan dalam aspek relasi terhadap sesama namun sebenarnya pepatah tersebut bisa digunakan di berbagai aspek dalam kehidupan kita seperti pekerjaan, pendidikan, pelayanan, kegemaran, serta masih banyak yang lainnya juga. Namun yang terpenting pepatah tersebut bisa dikaitkan dengan relasi manusia kepada Tuhan. Sebenarnya kata 'kenal' sendiri adalah suatu kata kerja dimana yang menunjukkan kita tahu; teringat kembali; mempunyai rasa; pernah tahu; mengerti; mempunyai pengetahuan tentang--ini semua dapat terjadi saat kita melakukan pengenalan kepada sesuatu tersebut. Terkadang saat dimana kita tidak mengenal, kita justru jadi tidak mengerti dan mempercayai akan seperti apa hal tersebut.

Apabila hal mengenal ini dikaitkan dalam suatu relasi diantara sesama yaitu saat kita merasa sulit untuk bisa berbicara terbuka kepada orang yang baru saja dikenal. Biasanya hubungan antara dua orang atau lebih yang baru saja bertemu akan menjadi canggung, berbincang-bincang seadanya dan mungkin hanya sekadar basa basi. Akan beda hasilnya jika yang bertemu adalah orang yang sudah saling mengenal dengan baik dan lebih dalam, misalnya seperti yang biasa terjadi antara relasi dengan sahabat terdekat -- kita akan dengan leluasa dan nyaman bercerita tentang segala hal, bahkan juga yang bersifat personal sekalipun. Menceritakan peristiwa yang terjadi, mencurahkan perasaan, menanyakan pendapat untuk hal-hal yang pribadi dan sejenisnya -- semuanya itu akan jauh lebih mudah dilakukan kepada orang yang sudah sangat kita kenal dengan sangat baik. Mengapa bisa terjadi seperti demikian? Karena lewat pengenalan yang semakin baik melalui membuka hati, memberi yang kita miliki (*secara ini semua anugerah dariNya), frekuensi komunikasi yang semakin bertumbuh secara kualitas maupun kuantitas, etc. Mau mengetahui, mengerti, dan mengungkapkan kehendak atau keinginan masing-masing dapat bisa menumbuhkan rasa percaya dan setelah percaya akan diikuti juga dengan perasaan peduli bahkan akan semakin terus meningkat menjadi perasaan sayang kepada mereka.

Jika hal-hal simple tersebut juga bisa kita terapkan di dalam mengenal Tuhan, seperti kita mau membuka hati kita kepadaNya, bukan hanya memberi tapi justru kita mengembalikan semuanya yang kita miliki kepada Sang Pemberi, frekuensi komunikasi yang bertumbuh dan secara kualitas dan kuantitas dengan melakukan saat teduh (merenung kepada Tuhan) -- membaca Firman Tuhan -- berdoa: komunikasi seperti ini harus terus ditingkatkan agar bisa semakin peka dalam mendengar Suara Tuhan kepada kita, serta mau mengetahui kehendak Tuhan Allah di dalam hidup ini. Sehingga setelah kita mengenal akan juga bisa semakin mencintaiNya. Namun terlepas itu semua terkadang relasi manusia kepada Tuhan masih dangkal yang dimana kita masih dengan mudahnya bisa mengucapkan kata cinta atau kasih terhadap Tuhan, tapi benarkah kita sudah sungguh-sungguh mencintai Tuhan Allah kita karena sebenarnya kita sendiri belum mau mengenalNya lebih dalam lagi di dalam hidup kita bagaimana bisa untuk mencintaiNya. Sejauh mana kita mengenal Tuhan? Itu akan berkaitan erat dengan seberapa jauh kita dekat dengan Tuhan, dan kemudian akan sangat menentukan seberapa besar juga tingkat kepercayaan kita yang bisa mendukung perasaan cinta kita kepadaNya.

Mengaku cinta atau kasih kepada Tuhan mungkin mudah karena bisa kata-kata yang bisa diucapkan depan orang lain, lewat lagu-lagu pujian yang dinyanyikan, pengalaman yang diceritakan, etc. Mungkin mudah bagi kita untuk berkata aku mencintai atau mengasihiNya, namun ketika kita dihadapkan pada realita biasanya hanya sedikit yang benar-benar percaya lewat iman yang teguh bahwa Tuhan itu ada memelihara kehidupan mereka sehari-hari. Ketika masalah menerpa, cobaan menghampiri, badai menghadang, etc seringkali justru rasa percaya itu menjadi menurun, bahkan mungkin hilang sehingga dengan mudahnya juga kita jadi tidak mencintai Tuhan lagi. Masalah menjadi terlihat jauh lebih besar dibandingkan kuasa yang dimiliki Tuhan. Inilah yang mungkin terjadi apabila kita belum sungguh-sungguh mengenal Tuhan Allah kita.

Bagaimana bisa sungguh-sungguh mencintai kalau belum benar-benar mengenal?
Untuk bisa benar-benar mencintai Tuhan, tentu terlebih dahulu kita harus sungguh-sungguh mengenalNya.
Bagaimana kita bisa mengenal Tuhan Allah kita? Yang pertama kita bisa Mengenal pribadi Tuhan melalui Firman Tuhan. Alkitab mencatat begitu banyak keterangan mengenai Tuhan Allah. Salah satunya adalah tips yang diberikan Daud dalam Mazmur. "Orang yang mengenal nama-Mu percaya kepada-Mu, sebab tidak Kautinggalkan orang yang mencari Engkau, ya TUHAN." (Mazmur 9:11). Salah satu kunci penting yang disebutkan disini agar kita bisa percaya yaitu dengan mengenal Tuhan. Masih banyak yang bisa digali dari Firman Tuhan yang membuat kita bisa secara mendalam mengenal siapa Tuhan Allah kita sebenarnya dan semakin mencintaiNya.
Mengenal pribadi Allah juga bisa kita peroleh lewat
pengalaman kita berjalan bersama-sama denganNya. Mengalami langsung kuasa Tuhan dengan penyertaanNya di dalam hidup kita adalah saat-saat dimana kita bisa mengenal dan menikmatiNya. Saat kita percaya untuk semakin hidup taat mengikuti kehendakNya, maka kuasaNya justru akan semakin nyata kita rasakan. Manusia yang percaya akan dibenarkan, yang mengaku akan diselamatkan dan yang semakin mengenal akan semakin bisa mencintai dan menikmatiNya. Ini sejalan dengan ayat diatas bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan manusia yang terus setia mencari dan merindukanNya.

Manusia yang setia mencari dan merindukan Tuhan adalah orang yang mencintai kepadaNya, punya pengharapan tanpa henti, tidak menyerah pada ketakutan dan kekhawatiran sendiri dan ini akan dimiliki apabila kita mengenal siapaTuhan itu sebenarnya, sebesar apa sesungguhnya kasihNya bagi kita semua, seberapa besar Tuhan ingin kita selamat dan mendapatkan bagian di KerajaanNya. Ini semua bisa mengingatkan kembali di dalam relasi manusia kepada Tuhan, sehingga kita bisa memiliki relasi yang terus bertumbuh kepada Tuhan Allah. Janganlah berhenti mencintai hanya dengan sebatas bibir saja, mulailah hari ini untuk mengenal pribadi Allah lebih jauh lagi sehingga dengan hati dan iman yang teguh kita bisa percaya sepenuhnya dan terus bertumbuh dalam mencintai Tuhan secara nyata di dalam hidup kita.

4/18/09

Korban =< Pelaku

Melihat judul di atas yang menggunakan dua kata yaitu korban dan pelaku, mungkin membuat kita menjadi mudah untuk mengaitkan masing-masing kata tersebut di dalam kehidupan sehari-hari karena kita sudah terbiasa mendengar kata tersebut. Dimana biasanya kata korban akan menjadi banyak untuk dikaitkan dengan hal-hal seperti korban tabrak lari, korban pelecehan seksual, korban kekerasan, korban penganiayaan, korban penipuan, korban perasaan, etc. Begitu banyak kata korban yang bisa diberikan tambahan kata dan pada akhirnya menghasilkan kata yang negatif. Melihat padanan kata korban tersebut sebenarnya perlu diberikan juga apa sebenarnya definisi dari kata 'korban'. Korban adalah orang yang menjadi menderita, tersiksa, sengsara, sedih, kecewa, etc akibat suatu kejadian, penipuan, penganiayaan perbuatan iseng, kejahatan, etc yang menimpanya.

Terkadang kita suka merasa kesal, kecewa, sedih, sakit, dan lain-lainnya ketika menjadi 'sang korban' apapun itu karena merasa diri ini tidak pantas atau tidak layak untuk dijadikan korban oleh orang-orang ataupun situasi di sekeliling kita. Tapi kalau mau dipikir ulang dan mengintropeksi diri, Apakah kita tidak pernah menjadi pelaku bagi sesama kita di dalam hidup ini?? Seakan-akan kita tidak pernah menjadi pelaku yaitu menipu, membohongi, memarahi, mengerjai,etc orang-orang bahkan situasi yang berada di sekeliling kita. Sebenarnya tanpa disadari justru mungkin kita pernah jadi pelaku yang jauh lebih kejam dan menyiksa dibandingkan saat menjadi sang korban.

Terlepas dari itu semua, ada hal yang lebih penting yang justru harus lebih kita pikir ulang apalagi buat orang yang mengaku percaya kepada Tuhan, karena saat kita tidak menyadari atau tidak mau mengakui bahwa kita tidak pernah jadi pelaku dalam hidup ini sebenaranya kita benar-benar sungguh kejam karena melupakan hal yang sangat penting yaitu kita justru sebenarnya sudah menjadi pelaku yang paling jahat karena keberdosaan dan segala perbuatan tidak berkenan kepadaNya yang sering kita lakukan telah membuat Tuhan kita yaitu Tuhan Yesus Kristus mau turun ke dunia berdosa ini dan menderita, tersiksa, bahkan mati di kayu salib untuk menebus dosa-dosa dan segala perbuatan jahat yang sudah manusia lakukan. Kita justru telah menjadikan Dia sebagai korban yang paling menderita dan sengsara tanpa bisa digantikan siapa pun juga di dunia ini, padahal Tuhan Yesus Kristus justru satu-satunya Pribadi unik yang sama sekali tidak bercela dan berdosa, serta tidak pernah jadi pelaku bagi manusia dan apapun di dunia namun justru rela mati untuk kita semua yang sebenarnya sama sekali tidak layak menerima itu semua.

Oleh karena itu, saat kita menjadi sang korban justru seharusnya kita tidak layak atau tidak boleh atau tidak pantas memiliki perasaan kesal, marah, dengki, kecewa bahkan dendam yang ingin membales itu semua karena ketika kita cuma fokus pada diri kita sendiri atau semua perasaan yang menimpa diri kita sendiri justru itu semua akan membawa kita jatuh ke dalam dosa. Namun kita justru harus bisa berfokus dan melihat kembali kepada pengorbanan Tuhan Yesus Kristus yang dimana begitu pengasih dan penyayang karena mau mengorbankan segalanya bahkan sampai nyawaNya sendiri untuk membebaskan kita dari hukuman maut.
Bagaimana kita bisa merespon segala pengorbananNya di dalam kehidupan kita ini??!!
Marilah kita sebagai orang percaya, bisa mengintropeksi diri sendiri akan ini semua ini, serta
Maukah kita senantiasa terus belajar dari karakterNya yang paling indah dalam menjalani segala aspek kehidupan kita di dunia ini??!!

How to express your love with others?